Menemukan Teman Hidup

Sunday, May 1, 2016






Sewaktu saya menyebarkan undangan tersebut kepada kerabat dan teman-teman, sebagian mereka kaget karena tiba-tiba saya akan menikah. Walaupun yang mereka tidak tahu saya sudah dilamar dari akhir Januari 2016. Hanya saja memang saya dan calon suami tidak mempublish kabar tersebut di sosmed dan hanya bercerita kepada keluarga dan beberapa orang-orang terdekat. Mungkin mereka kaget karena tahunya selama ini saya jarang terlihat punya hubungan khusus dengan seorang pria, apalagi saya pernah menyabet gelar duta jomblo tingkat kecamatan.

Lantas banyak yang bertanya bagaimana saya bisa ketemu calon suami dan memutuskan untuk menikah. Makanya saya putuskan untuk menulis di blog ini sekalian sebagai pengabadian kenangan saya menemukan teman hidup.

Begini ceritanya... *duduk paling depan* *siapin cemilan* *siapin bantal*

Bagi teman-teman yang sudah mengenal saya sejak dulu mungkin tahu bahwa saya pernah jadi remaja alay. Seperti kata Radityadika bahwa alay adalah proses pendewasaan, mungkin memang saya harus melewati fase tersebut dahulu sebelum akhirnya sampai seperti sekarang. 

Dulu saya kalau punya pacar pasti umbar kemesraan (jangan ditiru) di sosmed. Tiap ngedate wajib hukumnya upload foto di semua akun biar semua orang tahu “I was happy with my boyfriend”. Teman-teman sekitar mungkin risih juga kali ya kemana-mana lihat saya dan pacar waktu itu udah kayak cicak dan buntutnya alias tiada ingin berpisah dengannya walau sedetik saja *ember mana embeeer? Hoeeek*. 

Sampai akhirnya saya kena batunya, pacar yang saya anggap akan jadi pendamping selamanya malah putus ditengah jalan karena memang sebenarnya masing-masing kami tidak siap menikah cuma dibutakan yang katanya “cinta” padahal nafsu semata makanya berkilah dengan pacaran. Sempet down banget karena cowok, sempet juga ngerasa males banget berhubungan lagi sama cowok dan ngerasa type cowok  dua : 1. Tukang bikin sakit hati 2. Tukang PHP (yang setuju mana suaranyaaaaaah?)

Kapok pacaran padahal sudah pernah dikasihtahu bahwa pacaran itu dosa, ganggu konsentrasi kita di sekolah atau kantor, dan menghambat masa muda kita untuk melakukan kegiatan positif. Tapi karena takut dibilang nggak gaul dan lingkungan pertemananpun pada punya pacar, makanya dulu ikut-ikutan cari gebetan sana sini biar bisa punya pacar (astagfirullah...)

Untungnya Allah ngasih petunjukNya, saya sadar mungkin saya selama ini sudah menjauh dari agama. Karena sejak SMA saya sudah tinggal beda kabupaten dengan orang tua, dan kakak saya sudah bekerja dan ikut suaminya. Jadi saya merasa merdeka tidak ada yang mengawasi secara langsung dan akhirnya malah ikut-ikutan trend pacaran yang merugikan itu. Tapi saya punya prinsip, ketika kita bangun di pagi hari dan masih diberi Allah nafas maka kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. 

Saya mulai membenahi diri sendiri terutama yang berkaitan dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dulu saya pakai jilbab portable alias lepas pasang. Saya mulai coba istiqomah nggak dilepas-lepas kecuali di rumah dengan keluarga. Jilbab yang dulu pendek, masih pakai jeans, pelan-pelan saya ganti pakai rok atau gamis dengan jilbab menutup dada. Banyak orang sekeliling yang memakai hijab syar’i pun membuat saya juga lebih pede mencoba dan ternyata ketagihan memakainya. Sholat yang dulu kayak kue donat alias bolong-bolong, saya coba latih menjadi full lima waktu. Saya juga mulai aktif lagi ikut komunitas nggak hanya komunitas sosial tapi juga komunitas apa saja sesuai minat saya. Sangking pengennya aktif lagi saya sampai ikutan komunitas fotografi hape, komunitas puisi, ikut lomba lomba walaupun banyak kalahnya daripada menangnya, tiap teman bikin event nawarin jadi mc atau jadi panitia. Apapunlah pokoknya untuk mengisi waktu libur kerja, walaupun habis itu bisa demam kalau dipaksa kegiatan seminggu nonstop siang malam *daku hanyalah wanita lemaaah*.

Cara itu berhasil bikin saya jadi ceria lagi tanpa harus sibuk mikirin cowok. Saya nggak khawatir nggak punya pacar karena lingkungan saya sudah berubah dari yang kalau nongkrong ngomongin gebetan sekarang kalau nongkrong ngomongin mau bikin project apa selanjutnya. Saya merasa lebih baik karena bisa menghabiskan masa muda dengan kegiatan positif dibanding harus galau-galau mikirin cowok.

Nah dimasa-masa ini saya sudah nggak mikirin pacaran tapi nggak mikirin mau segera nikah juga. Menikmati saja setiap aktifitas dalam hidup. Sampai mama suka nanya-nanya kapan ada rencana mau nikah karena saya sudah 20an, dan sudah bekerja juga. Lama-lama kepikiran juga sih apalagi memang saya sebenarnya agak kesulitan sendiri. Karena jauh dari keluarga saya kerepotan kalau lagi sakit nggak ada yang ngurusin atau lagi kelaparan tengah malam tapi takut keluar rumah beli makan *iyeee kagak bisa masak gue*.

Ada beberapa cowok yang dekatin kalau gaya ngedekatinnya masih kayak cowok pdkt nyari pacar, nggak saya tanggapin. Tapi kalau ada yang dilihat gayanya serius langsung saya todong “mau nggak kita saling kenal tapi nggak pakai pacaran, nggak bawa perasaan, kalau cocok kita langsung nikah”. Jawabannya? Ditolak karena masih mau fokus sama kehidupan pribadi. Padahal dari segi umur, latar belakang pendidikan dan keluarga saya menilai sudah cocok untuk dijadikan suami. Sakit hati? Nggaklah. Saya merasa ini bagian dari proses saya menemukan teman hidup. Saya yakin kalau selama ini Allah mengabulkan apa saja yang saya minta dan bahkan memberikan lebih dari ekspetasi saya maka soal jodohpun pasti Allah berikan asal saya minta sungguh-sungguh dan berikhtiar memperbaiki diri.

Bahkan disaat ulang tahun yang lalu, umur saya 22 tahun. Sahabat-sahabat saya bertanya apa keinginan terbesar saya di umur 22. Saya menjawab saya ingin menikah, tahun 2016 sebelum bulan puasa tepatnya bulan april. Sahabat-sahabat saya tertawa karena kesannya saya niat banget pengen nikah padahal waktu itu nggak ada dekat dengan siapa-siapa. Saya juga ikut tertawa yang penting kan ada keinginan ditambah usaha dan doa.

Hingga suatu hari saya pindah divisi pekerjaan dan mengharuskan saya ikut pendidikan dan pelatihan (diklat). Di diklat ini saya bertemu banyak senior dari berbagai UPT (lapas/rutan/rupbasan) di provinsi Jambi salah satunya dari Lapas Tebo. Kebetulan saya duduk di sebelah senior laki-laki. Sambil menunggu pemateri datang. Saya coba basa-basi sambilan modus;

 “dari Tebo yang bang?”

 “iya, adek dari lp anak?”

 “iya bang,hm..ngomong-ngomong udah berumah tangga bang?”

 “sudah, beberapa bulan lalu. Kalau adek?

 jiaaaah sampai disini modus gue gagal, ternyata udah sold out cyyn. 

belum, di lapas Tebo banyak bujangan nggak bang?” saya jawab seperti itu dicampur iseng doang.
ada, ntar dikenalin ya”. 
 
Begitulah percakapan saya dan senior tersebut, saya kira ya itu hanya percakapan basa-basi menjelang menunggu pemateri datang. 

Tapi ternyata senior tersebut beneran serius mau nyariin saya jodoh. Sepulang dari diklat, dia promosi tentang saya ke beberapa bujangan di Lapas Tebo. Dia bilang saya kerja di LP Anak, dia perlihatkan blog saya, aktifitas saya di komunitas, dll. Hadeeh udah kayak sales jualan panci. Saya ketawa-ketawa saja mendengar ceritanya yang sudah mempromosikan saya tapi belum ada yang tertarik *ketawa miris*. Nggak menyerah, senior tersebut sengaja minjam handphone salah satu kandidat bujangan yang menurutnya cocok untuk saya dan memasukkan pin bbm saya di handphonenya. Saya juga awalnya bingung ini siapa yang invite namanya “Agus”. Karena saya juga ada teman lama yang namanya sama maka saya terima. 

Beberapa bulan berlalu, saya nggak pernah chatting dengan si “Agus” tersebut karena saya tidak punya kepentingan apapun dan diapun jarang gonta ganti dp bbm dan status. Si seniorpun sepertinya sudah lupa dengan misinya menyomblangkan saya. Sampai suatu hari saya nggak ada kerjaan, saya scroll recent updates bbm dan saya lihat kontak dengan nama “Agus” mengganti display picturenya dengan gambar meme lucu. Saya komen dpnya, dan sekalian tanya kabar. 

hihi, ada-ada aja dpnya. Btw apa kabar om Agus? Dah lama ya nggak ketemu. Dimana sekarang?” ‘om’ adalah panggilan saya untuk si agus yang saya kira teman lama saya.
hehe makasih. Baik, sekarang di Tebo.” Balasnya.

Haaa? Tebo? Tunggu..tunggu. Agus yang saya anggap teman lama itu orang Jambi kenapa bisa ada di Tebo. Apa sudah pindah kerjaan? Apa jangan-jangan ini senior di lapas?
Saya mencoba menyambungkan ingatan, kalau nggak salah Agus juga menjadi salah satu kandidat nama yang pernah ingin dicombaling sama saya. Haduuh mampus nih ntar dibilang sok akrab banget. Akhirnya saya putuskan untuk bertanya.

eh ini bukannya Agus temen saya ya yang kerja di Jambi?”
“bukan, ini Agus Lapas Tebo”
“ups maaf bang, ini Enny lapas Anak angkatan 2012. Saya kira tadi teman saya. Maaf ya senior”
“iya dek nggak apa-apa”.

 Fiuuuh saya lega dia nggak tersinggung dan biarlah anggap aja sekalian kenalan *modus luuu!!*.

Tapi saya nggak berani melanjutkan percakapan jadilah kemudian kami tetap jadi teman bbm tanpa pernah menyapa. Hingga suatu hari ada kejadian pelarian dan kerusuhan di Lapas Tebo. Saya pun mencoba bertanya keadaan disana dengan mengirimkan pesan bbm ke teman-teman saya yang bekerja disana tapi saya tunggu nggak ada balasan. Sayapun terpikir untuk bertanya juga kepada senior yang bernama “Agus” yang pernah salah kirim bbm waktu itu. Modal sok akrab sayapun memberanikan diri mengirimkan pesan bbm ke dia dan ternyata dibalas.

Berawal dari menanyakan keadaan di lapas Tebo, chatting pun berlanjut ngomongin pekerjaan, sampai kehidupan pribadi. Beberapa hari kami sering chatting walaupun dengan alasan yang sengaja dicari biar ada bahan obrolan. Sampai kami berbicara tentang kriteria pasangan masing-masing. Disitu saya langsung todong dia “mas, mau nggak kenal saya lebih dekat dengan tujuan menikah? Nggak usah pakai pacaran, nggak usah bawa perasaan. Kalau nggak cocok kita berteman baik sebagai junior dan senior, kalau cocok kita lanjut menikah.” Saya deg-deg-an juga sih kirim pesan seperti itu, padahal baru intens chatting beberapa hari, belum pernah ketemu langsung, hanya pernah dengar tentang dia dari senior yang waktu itu niat menyomblangkan kami.
Dan dia jawab “iya, mau. Mas juga lagi cari calon istri kok nggak mau pacaran juga”.
HOREEEEE, ketiga kalinya saya mengajukan pertanyaan seperti itu kepada laki-laki akhirnya ada yang mau juga *girang*. Eh tunggu, dia kan belum ketemu saya. Kalau ternyata sudah ketemu dia kecewa gimana? Emang sih dia sudah lihat foto saya di dp bbm. Tapi dia kan nggak tahu kalau saya jago photoshop dan kalau selfie pakek filter segambreng biar mulus. Hm... ya sudahlah jalani aja dulu. Semoga standar fisik wanita yang dia idamkan nggak kayak Syahrini atau Ashanti.

Setelah sepakat untuk saling mengenal, pembicaraan kamipun sudah masuk tentang visi misi pernikahan, latar belakang keluarga, kegiatan apa yang dilakukan ketika waktu senggang, bagaimana dia menyikapi saya yang juga bekerja, pandangan tentang perekonomian dalam keluarga, pokoknya baik saya dan dia bebas bertanya yang berkaitan dengan bekal berumah tangga kalau memang jadi nantinya. Kita juga diskusi contoh kasus yang umum terjadi di rumah tangga dan bagaimana pandangan saya dan dia dalam menyikapinya. Lebih penting lagi apakah dia orang yang mau terus belajar tentang agama Islam dan mengajarkannya kembali kepada saya dan apakah saya orang yang juga mau belajar dan mau mengingatkannya dalam kebaikan.

Alhamdulillah nggak sampai sebulan kita sudah merasa cocok dengan hal-hal yang dibahas tersebut. Meski ada perbedaan tapi itu nggak mencolok dan kami merasa masih bisa diatasi dengan kunci meredam ego satu sama lain. Sayapun minta dia untuk datang ke Jambi bertemu saya dan orangtua. Sekalian dia meyakinkan diri dengan melihat fisik saya. Saya bilang “siapa tahu lobang hidung saya ada tiga apa kamu masih mau?”

Pertemuan pertama dia datang ke rumah dan mama papapun menyambut dengan baik. Sayangnya pas dia datang di rumah lagi mati lampu. Di dalam hati saya deg-deg-an juga, pertama kali ketemu tapi dia melihat saya dalam keadaan remang-remang diterangi cahaya lilin. Gimana kalau pas remang-remang dia lihat saya cantik pas lampu hidup dia malah syok? Alhamdulillah, ditengah-tengah ngobrol lampu hidup dan dia nggak kaget sama sekali, hihihi.

Malah setelah pertemuan pertama dia tambah yakin, bulan berikutnya dia datang lagi ke Jambi untuk menyatakan keseriusannya terhadap saya kepada mama papa. Mama papa memberikan restu, orang tuanya yang ada di pulau Jawa pun memberikan restu meski hanya via telpon, maka pada pertemuan di bulan berikutnya yaitu tanggal 31 januari 2016, dia datang lagi bersama perwakilan keluarganya untuk melamar saya. Cihuuuy!!

Cukup dua kali pertemuan dan ketiganya adalah lamaran. Saya senang Allah menjawab do’a-do’a saya dan orang tua saya selama ini. Sampai saya cerita kepada seorang teman dan dia bilang “baru kenal udah lamaran? Yakin mau nikah? Kan baru kenal. Kalau ternyata dia nggak baik gimana?” pertanyaan itu sempat membuat saya diam beberapa saat dan kemudian menjawab,

iya juga ya, ntar gimana kalau dia nggak seperti yang dikira? Heheh. InsyaAllah saya merasa dia adalah jodoh yang Allah berikan karena cara yang ditempuh baik dan dia pun berniat melamar bukan mengajak pacaran. Saya yakin Allah memberikan apa yang kita mau dan kita butuhkan. Saya sudah berdoa jodoh seperti apa yang saya mau. Kemudian Allah datangkan dia, kita ngobrolin visi misi, dan ngerasa cocok. insyaAllah ini yang terbaik. Nikah kan ibadah yang menyenangkan jadi nggak perlu ada yang dikhawatirkan. Memang dalam rumah tangga pasti nggak akan berjalan mulus terus. Ada kerikilnya bahkan batu besar. Tapi nggak cuma pernikahan, kita kerja ada suka duka, kita sekolah ada suka duka. Nah karena segala sesuatu yang kita jalani ada suka dan dukanya maka saya sudah siap dengan resiko tersebut dalam menjalankan rumah tangga nanti” teman saya tersenyum dan kemudian mendoakan agar pernikahan kami berjalan dengan lancar.

Alhamdulillah, 22 April 2016 akad nikah dilaksanakan di rumah orang tua saya. See? Doa saya terkabul untuk menikah di bulan April 2016. Doa saya dari kecil bahwa saya berharap Allah memberikan keberkahan umur dan kesempatan agar ayah saya yang menikahkan saya secara langsung pun terkabul. Sekali lagi, Alhamdulillah....

photo by : instagram.com/flavianphoto


24 April 2016 resepsi dilaksanakan dan Alhamdulillah keluarga, kerabat orang tua, sahabat-sahabat saya bahkan teman dari SD datang dan mengucapkan selamat. Banyak juga yang minta didoakan agar cepat nyusul, hihii. 

Semoga cerita saya ini bisa menginspirasi teman-teman yang pengen cepat nyusul untuk berhenti pacaran dan lebih baik ‘menodong’ orang yang dianggap baik untuk diajak menikah. Hal itu bukan aib daripada kita menerima diajak pacaran. Jangan lupa minta doa orang tua, mendekatkan diri kepada Allah, minta yang terbaik pasti dikasih. Dulu saya berdoanya bukan minta yang mapan, ganteng, sholeh, baik hati dan rajin menabung. Tapi saya minta jodoh yang terbaik dari Allah, yang mama papa ridhoi dan saya senangi. Kan kalau ortu ridho tapi kita nggak sreg ya nggak enak juga, atau sebaliknya kita suka tapi orang tua nggak ridho ntar nggak jadi berkah pernikahannya. Allah tahu kok apa yang kita butuhkan.  Saya pernah dengar ceramah, kata uztadnya begini cara menilai lelaki yang baik untuk dijadikan calon suami : Apa dia selalu sholat lima waktu?  Karena kalau perintah dari Allah berani ditinggalin dengan sengaja ya apalagi kitanya nanti. Lihat juga kegiatan apa yang dia lakukan di waktu luangnya? Kalau bukan kegiatan positif ya silahkan dipikir-pikir lagi. Nggak usah mikirin fisik, atau sifat yang setia romantis bla bla bla. Kalau dia berniat menikah karena ibadah, nanti bisa dipelajari bersama bagaimana menyenangkan pasangan satu sama lain. Saya dan suami juga masih harus banyak belajar kok.




Sekarang saya sudah menemukan teman hidup. Saya bilang ke dia bahwa cinta bisa saja luntur, ada masanya jenuh. Untuk itu kita harus memposisikan diri tidak hanya sebagai pasangan yang saling mencintai tapi juga salng support. Jadi kegiatan apapun yang kita lakukan bersama bukan terasa sebagai kewajiban suami istri tapi sebagai kegiatan yang fun dan bikin kita happy.


Panjang juga ya ceritanya, bisa kali dibikinin FTV *produser mana yang mau? :P*

Saya menulis bukan untuk pamer bahwa saya sudah laku atau apalah, saya menulis karena memang saya suka menulis dan saya punya quotes sendiri.

kita akan melupakan kenangan, kecuali kenangan yang dituliskan”

Salam,
Enny Luthfiani


Yang sudah tidak jomblo lagi. 








19 comments:

  1. Alhamdulillah alhamdulillah :)
    Eiiinnnnnnnnn :')

    ReplyDelete
  2. Senengggg bacanyaaa.. inspiring. Thankyou sharing nya Ein. Semoga cepet dapet dedek lucu yaaaa biar makin rame.. miss you partner raditya lovers hahahhaa.

    ReplyDelete
  3. Kereeenn bangeett eiin.. Masya Allah..
    Semoga berkah yaa pernikahannya, bahagia selaluu.. Semoga aku juga bisa jadi perempuan yg sehebat kamu jaga kesuciannya :") makasih inspirasinyaaa

    ReplyDelete
  4. bilang makasih gih sama napi yang rusuh di lapas tebo :D gara gara mereka rusuh mbak ein ketemu doi hehe

    selamat yaa yang sudah tidak jomblo lagi, salam dari kerinci.

    ReplyDelete
  5. Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
    Wa jamaah baina kuma fee khair.

    ReplyDelete
  6. Einnnn... Doakan yani menyusul ya.. Hihi.. Menginspirasi ceritanya...

    Terimakasih sudah berbagi cerita..
    Semoga menjadi keluarga yg samawa ya dear, dan cepat mendapatkan momongan :)

    ReplyDelete
  7. Selamat Enny! Happy wedding day ya. Kita nikah beda 11 hari anyway, saya 10 april 2016.
    Salam kenal, saya Riska dari Jakarta, sudah cukup lama jadi silent reader blogmu tau saat aku blog walking. Hehe

    ReplyDelete
  8. Jujur ein...dr kmren saya nunggu2 tulisanny yg ini...berkesan bgt.....pokokny samara ya....

    ReplyDelete
  9. Jujur ein...dr kmren saya nunggu2 tulisanny yg ini...berkesan bgt.....pokokny samara ya....

    ReplyDelete
  10. bagus blog nya, kunjungi dan follow blog saya
    andesrizki.blogspot.com

    ReplyDelete
  11. sama kaya kisahku dulu sebelum nikah, mendadak kata temen"kok ga heboh"an dulu tau"ngundang aja, dan itupun suamiku juga ga lama kita dekat aku todong serius nikah emang dia mau juga lanjutkannn dan sampailah kepernikahan hehe :D

    www.leeviahan.com

    ReplyDelete
  12. Begitulah jodoh ya, sudah lama pacaran belum tentu di nikahi. Yang penting sekarang kalian bisa langgeng ya. Dan salam kenal juga :)

    ReplyDelete
  13. aaaak nge fans ngefanssssssss....yg terkhir ngejleb banget sih tapi bener : Apa dia selalu sholat lima waktu? Karena kalau perintah dari Allah berani ditinggalin dengan sengaja ya apalagi kitanya nanti. Lihat juga kegiatan apa yang dia lakukan di waktu luangnya? Kalau bukan kegiatan positif ya silahkan dipikir-pikir lagi...

    eiiin samawa yah..cantiks sekali di pelaminan,,pengen banget datang tapi bisa apalah aku yg masih pendidikan...peluk hangat dari padang, dari yg masih jomblo, yg masih nungguin ironman nyaa HAHA

    ReplyDelete
  14. selamat ya ein, semoga sakina mawadaah dan rohmah.

    btw someday bisa dibagi (ditulis) pengalaman nya tentang bagaimana ceritanya bisa membangun sebuah komunitas biar teman2 yg ingin membentuk sebuah komunitas (kaya aku) bisa mulai ikutan bergerak kaya kamu.hihi

    ReplyDelete
  15. Waaah ceritanya menginspirasi, paling kaget yang bagian 'nodong' tapi alhamdulillah yaa bener juga .. jlep akhirnya mah quotesnya

    lebih baik nodong daripada nerima pacaran..

    ReplyDelete
  16. Barakallah atas pernikahannya. Waah ikut terharu juga :') semoga samawa ya kaak. Doakan semoga saya istiqomah jaga hati sampai saat itu tiba. Doakan segera menyusul ya hehehe

    Salam dari jatim :)

    ReplyDelete
  17. Salam kenal ya mba...
    Duh, ngebaca cerita dari awal sampe nikah saya ketawa2 sendiri. Yang bolong2 kek kue donat lah, yang filter segambreng lah hahaha.
    Alhamdulillah yaa, kalo niat baik pasti dilancarkanNya.
    Barokallah untuk pernikahannya :)

    ReplyDelete
  18. Br baca blog y ein,keren....
    "Cinema09"

    ReplyDelete

Jangan cuma bisa ninggalin kenangan, tinggalin komentar juga dong ^_^

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS